Posted by : Makmur Siregar, SE
Ilustrasi Desa Memanfaatkan Tenaga Surya
Desa di Indonesia kini berada di garis depan pertempuran menghadapi perubahan iklim. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem dalam setahun terakhir, terutama di wilayah pedesaan yang mengandalkan pertanian dan sumber daya alam. Desa tidak lagi sekadar menjadi penonton perubahan iklim tapi juga telah menjadi korban sekaligus benteng terakhir.
Di tengah situasi ini, Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) Tahun 2026 harus rampung paling lambat akhir September 2025. Ini bukan sekadar administrasi tahunan. Ini adalah dokumen strategis yang menentukan arah pembangunan Desa setahun penuh, termasuk bagaimana Desa akan menghadapi ancaman iklim.
Memasukkan program ketahanan iklim ke dalam RKP Desa 2026 bukan pilihan, tapi keharusan. Mengapa? Karena tanpa langkah adaptasi dan mitigasi yang terencana, Desa akan terus terjebak dalam siklus kerugian akibat bencana. Mulai dari gagal panen, rusaknya infrastruktur, hingga meningkatnya penyakit berbasis lingkungan.
Apa Itu Desa Berketahanan Iklim?
Desa berketahanan iklim adalah Desa yang mampu mengantisipasi, mempersiapkan diri, merespons, dan pulih lebih cepat dari dampak perubahan iklim. Konsep ini tidak hanya berbicara soal penanaman pohon atau pembangunan embung, tapi juga soal tata kelola yang visioner, penguatan kapasitas masyarakat, dan keberanian mengubah pola hidup demi keberlanjutan.
Secara praktis, Desa berketahanan iklim berarti:
- Mempunyai data kerentanan iklim Desa;
- Memiliki program adaptasi yang jelas (misalnya agroforestri, konservasi air, sistem peringatan dini bencana), dan;
- Menyediakan anggaran khusus, baik dari Dana Desa, alokasi APBD, atau kemitraan pihak ketiga.
Kita ambil contoh, Di Jember, misalnya, perubahan pola hujan membuat petani tembakau dan padi harus memutar strategi tanam. Sementara itu, di pesisir selatan, abrasi menggerus tambak dan lahan pertanian warga. Fenomena ini bukan lagi peringatan dari para ilmuwan. Ini sudah mengetuk pintu rumah warga Desa.
Ketahanan iklim bukan hanya tentang menyelamatkan ekosistem, tapi juga tentang melindungi ekonomi Desa. Setiap kerusakan sawah, kebun, atau tambak berarti hilangnya pendapatan keluarga dan meningkatnya risiko kemiskinan.
Langkah Strategis Memasukkan Program Ketahanan Iklim ke RKP Desa 2026
- Identifikasi Kerentanan Iklim Desa; Lakukan pemetaan risiko berdasarkan pengalaman lokal dan data ilmiah. Misalnya: wilayah rawan banjir, kekeringan, atau longsor.
- Tetapkan Program Adaptasi dan Mitigasi; Contoh: pembangunan sumur resapan, rehabilitasi hutan desa, sistem irigasi hemat air, bank pakan ternak untuk musim kemarau.
- Integrasi ke dalam RKP Desa; Pastikan program ketahanan iklim masuk di bidang lingkungan hidup, pertanian, atau penanggulangan bencana Desa.
- Pembiayaan yang Berkelanjutan; Gunakan Dana Desa, galang kemitraan dengan LSM, CSR perusahaan, atau program pemerintah Provinsi/Kabupaten.
- Edukasi dan Pelibatan Warga; Ketahanan iklim hanya berhasil jika warga memahami dan terlibat aktif mulai dari kelompok tani, pemuda karang taruna, hingga kader PKK.Belajar dari yang Sudah MelangkahBeberapa Desa di Indonesia sudah membuktikan bahwa ketahanan iklim bisa diwujudkan. Di Desa Nusa Penida, Bali, misalnya, warga membangun sistem penampungan air hujan untuk mengatasi kekeringan tahunan.Di Desa Wunlagang, NTT, sistem agroforestri membantu petani meningkatkan pendapatan sekaligus memulihkan tutupan hutan. Kuncinya ada pada perencanaan matang, kolaborasi lintas pihak, dan keberanian memulai meski dengan sumber daya terbatas.
Jangan Pertaruhkan Masa Depan Desa KitaWaktu kita tidak banyak, jika desa tidak segera memasukkan program ketahanan iklim ke dalam RKP Desa 2026, kita sedang mempertaruhkan masa depan yang lebih rapuh.Mari kita pastikan Desa bukan hanya tempat lahir dan tinggal, tapi juga tempat yang tangguh menghadapi panas yang membakar dan banjir yang menghanyutkan. Karena pada akhirnya, desa yang berketahanan iklim adalah desa yang memberi harapan, bukan hanya pada generasinya, tapi juga pada generasi yang belum lahir.
