Dalam kesempatan tersebut, Menteri Mu’ti
turut menyampaikan apresiasi atas dukungan dari UNESCO dan semua negara
anggota yang telah mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja ke-10
pada Sidang Umum UNESCO pada 20 November 2023.
Menteri Mu’ti mengatakan, bahwa bahasa
Indonesia telah lama berfungsi sebagai jembatan kesatuan di seluruh
archipelago Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, 700 bahasa
lokal, dan 1.300 etnik. Pada hari ini, ucap Menteri Mu’ti, bahasa
Indonesia kembali mengukuhkan eksistensinya di dunia internasional
sebagai jembatan pengetahuan antara negara.
Menteri Mu’ti juga menegaskan, bahwa UNESCO sebagai penuntun moral dan
sumber pengetahuan global yang meneguhkan nilai kemanusiaan dan perdamaian,
untuk tujuan inilah UNESCO harus menjadi kompas etika bagi peradapan dunia.
Sejalan
dengan pinsip tersebut Indonsia memandang perlu adanya perlindungan dan
dukungan tanpa syarat bagi hak-hak pundamental di zona konflik khususnya di Gaza,
dimana hampir seluruh elemen peradaban dihancurkan dengan sengaja dan terancam
hilang.
"Kami mendesak komunitas
global untuk memastikan keselamatan pelajar, pendidik, jurnalis dan relawan
kemanusiaan serta pemulihan total fasilitas pendidikan dan cagar budaya yang
rusak, in adalah pertaruhan martabat kemanusiaan yang harus kita menangkan" tegasnya...
Di akhir pidatonya, Menteri Mu’ti menutupnya dengan sebuah pantun.
“Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan. Jika manusia
bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian,” tandasnya.....
Download:
Pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah,
Abdul Mu’ti, pada Sidang Umum
UNESCO ke-43 di Kota Samarkand, Uzbekistan, Selasa (4/11).